Rabu, 18 Februari 2015

Sepersekian Detik

                Kalau saja aku di beri sedikit ruang, kalau saja ada jalan untukku, kalau saja aku tidak terlambat sepersekian detik, pasti putri masih bersama ku. Setidak nya aku masih mendengar tawa nya, melihat senyum nya, dan menatap nya.
                Tepat kira kira dua belas siang waktu setempat, entah hal bodoh apa yang di lakukan para polisi yang berjejeran sehingga mereka melarang kami melewati jalan itu. Meskipun aku dan adik laki laki ku memohon dengan bertekuk lutut mereka juga tidak mau, polisi polisi gila.
                Terpaksanya, kami harus berputar 270 derajat dan menempuh perjalanan yang terlampau jauh. Dan, hari ini tidak ada yang berpihak pada kami. Tidak ada yang mengerti kami, bahkan tidak mau mengerti. Bagaimana aku bisa tahan dengan kemacetan seperti ini? Bagaimana aku bisa tahan kalau mobil ini sama sekali tidak bisa jalan? Bagaimana aku bisa tahan kalau aku tau aku tidak punya banyak waktu sementara aku hanya diam disini? Aku mau berlari, menggendong nya, aku tidak peduli matahari, tidak peduli juga kumpulan polusi, aku bahkan tidak pernah peduli orang orang yang melihat ku. Aku masih berlari, diantara kendaraan kendaraan bodoh yang berhenti. Aku masih berlari, diantara orang orang yang melihat ku risih. Aku masih berlari, dengan menangis pedih.
 “Tuhan, selamatkan Putri!” Aku tidak bisa menghitung berapa banyak kata itu keluar dari mulutku. Bahkan sampai dia masuk ke Unit Gawat Darurat, aku masih saja berucap “Tuhan, selamatkan Putri!”
                Dasar dokter gila, seperti itu saja tidak bisa! Ini yang di sebut pelayanan? “Ini takdir bu. Ibu terlambat sepersekian detik.” Sampai mana semua berucap ini takdir? Sampai mana orang orang membawa nama takdir untuk menawarkan semua nya? Ini sangat pahit, paham lah! Aku tidak berjanji mampu hidup tanpa peri kecil ini, aku tidak berjanji untuk bisa menerima semua nya. “Tuhan, sambung nyawa Putri!”
                Bodoh, gila, sableng, stress.. Egois! Jadi ya gara gara wakil rakyat yang lewat jalan harus di kosongkan, jalan tidak boleh di lewati. Lalu apa wakil rakyat itu mau tanggung jawab atas segala yang ku alami? Mau tanggung jawab, kalau putri sudah pergi begini? Mau nempui keterlambatan ku yang sepersekian detik itu? “Tuhan, kembalikan Putri!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar