Senin, 08 Desember 2014

Kenaikan BBM




Sebab kenaikan bbm menjadi perbincangan hangat sepanjang hari bagi seluruh masyarakat negara kami, baik pagi hingga matahari tenggelam lagi. Inikan tentang uang dua ribu saja, kadang rakyat suka manja-manja. Apa-apa minta murah, dimana-mana harus sedia. Ah tapikan memang tugas negara seperti itu. Seperti harus mensejahterahkan rakyat nya, bikin kebijakan yang sekira nya enggak bikin susah.

Hari ini kami dibikin sedih, kala bangga membara-bara merah untuk pemimpin kami yang banyak orang mengatai dia peduli. Belum, dia belum sedang apa-apa pada jabatannya. Tapi keputusannya berhasil buat mulut kami menganga. Menaikkan harga bbm pada harga minyak sedang turun apa ibu ku pun tak turut kepalkan tangan. Ini gaji ayah ku sudah tak naik-naik, bbm sudah kepedean naik.

Naik nya harga bbm ku dikompensasikan untuk pembangunan infrastruktur bagi jalan-jalan kuno yang masih "berlemah" dipelosok negeri. Untuk didekat-dekat rumah, aku bisa melihat nya pada pembangunan jalan-jalan tol tinggi bermeter-meter di atas kepala kami yang berhasil mengusir paksa hunian dimana kenyamanan hidup telah kami dapatkan disana. Memang negara membeli hunian kami dengan harga tinggi, tapi tentang kenyamanan bisa beli dimana dengan uang kompensasi ini?

Lebih dari itu, dengan naik nya harga bbm maka mengurangi anggaran negara terhadap bbm bersubsidi. Anggaran itu digunakan untuk pembuatan kartu sakti: kartu sehat, kartu pintar. Yang awalnya presiden kami tidak terus terang bahwa uang dari kartu-kartu itu didapat karena naik nya harga bbm. Ah kalaulah si pemimpin bilang dari awal, boleh jadi banyak orang gugur memilih nya.

Sekarang semua sudah naik. Bihun goreng yang awalnya dua belas ribu jadi empat belas ribu, aduh. Dari rumah ku ke purabaya naik bemo biru empat ribu jadi lima ribu, buset. Kalau isi bensin full buat seminggu ke di Madura dua puluh dua ribu jadi tiga puluh ribu, Ya Tuhan. Lalu mau gak kuliah di madura? Lalu untuk tante ku mau nggak kerja kalau angkot naik? Mau nggak beli bihun goreng kalau sedang ingin-ingin nya? Ha? Mau memberhentikan hidup kalau bbm sudah jadi begini? Ayah pernah bertanya itu pada ku. Sehingga betul kata teman ku (sebut saja ipul, satunya adam), mau bbm naik berapa pun rakyat toh juga akan beli, mau nggak naik pun lama-lama juga pasti naik yang nama nya bbm itu. Karena bbm kan bukan bahan yang bisa didaur ulang. Jadi mau naik sekarang, besok, besok-besok, juga pasti naik. Cuma masalah waktu. Ah ayah ku memang salah satu rakyat indonesia yang pasrah, tabah, nerima. Tapi pernah aku baca satu buku waktu smk (aku lupa judulnya), seseorang juga bilang ini. Terlalu tabah, pasrah, nerima itu beda tipis sama bodoh. Benar kan? Kalau di kasih kebijakan ini sabar tabah nerima, dikasih kebijakan itu sabar tabah nerima padahal bikin hancur pelan-pelan tulang punggung, kan bodoh nama nya kalau gak protes?

Naik nya bbm memang bikin ngilu. Yang ngilu itu orang-orang miskin yang kebetulan bisa kredit motor dan orang-orang miskin yang nggak punya motor tapi bekerja nya butuh bbm. Kalau orang-orang mampu, mau bbm naik di angka berapa pun mah sanggup beli dengan gaji mereka yang lebih-lebih. Lha menurutku dengan dinaikkan nya bbm nggak mengurangi orang kaya dalam sumbangsih nya menggunakan bbm bersubsidi karena toh mampu beli.

Lagi pula si moncong putih ini sangar sekali menghianati ideologi politik nya sendiri. Ah mana moto nya "partai ne wong cilik"? mana? Dulu jaman SBY, seingat ku, dia menjadi partai yang tidak setuju pada keniakan harga bbm. Tapi sekarang waktu sudah 'mbegagah' diatas, lidah mereka seolah terbalik karena dengan sigap tancap gas bikin keputusan duaribu. Baik sekali selama ini si moncong putih menarik hati penghuni negeri.

Lantas kenaikan bbm ini mungkin kah tak akan naik lagi? Masak sih hanya berhenti pada angka delapan ribu lima ratus? Aku jadi ingat kata seorang guru favorite ku waktu smk, waktu bbm naik jadi enam setengah. Tau pom bensim selain pertamina? Yang warna cat nya bukan merah tapi kuning atau biru? Pom bensin itu hari ini memang masih sepi, tapi lihatlah nanti setelah harga bbm semakin naik mendekati nominal penjualan mereka maka pom pom itu akan dengan sendirinya ramai. Itulah alasan mengapa mereka masih sepi tapi nekat berdiri. Mereka tau kalau anngka bbm lambat laun akan mendekati angka penjualan mereka. Setauku harga bbm di pom kuning atau biru relatif stabil. Paling murah sepuluh ribu, paling mahal ya dua belas ribu. Nah kalau benar bbm pertamina berharga sama maka yang terjadi, masyarakat kita akan pindah haluan pada pom kuning atau biru. Mengapa? Jelas. Karena harga yang sama tapi kualitas bbm kuning jauh lebih bermutu. Lalu sakitlah perusahaan besar negara kami.

Kanapa bisa begitu? Karena Indonesia memiliki hutang pada bank dunia yang milik sebuah keluarga dan harus membuat kesepakatan. Kesepakatan nya apa? Ya ini tadi, kebijakan pemerintah yang kalian-kalian rasai. Mungkin dengan kata lain presiden cuma simbol saja, tapi yang sebenarnya menjalankan adalah orang-orang yang menghutangi indonesia. Aku sedih tujuh keliling.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar