Senin, 08 Desember 2014

Depan Stasiun dan Kakek Ukulele.






 Cawan merah. Topi hitam kumal. Aku masih menaruh heran sore itu, pada seorang lelaki proletar yang bersila didepan pemberhentian kereta api sebuah kota besar dijawa. Sembari menunggu adik lelaki ku, aku sengaja mendekatinya. Kali ini aku ingin mendengar ceracau nya dengan jelas.
 
Ayam, apel, singkong, roti. Kata itu ia ucapkan pada empat orang yang memberi uang receh pada mangkuk merah retak didepannya. Dia masih memetik ukulele jelek dengan petikan-petikan merdu. Kian, memporak-parikan pandangan ku. Menepuk pundakku dan aku tersontak kaget. Sial. Untung saja adikku, kalau tidak mungkin aku sudah melahapnya bulat-bulat. Aku meninggal kan laki-laki tua dengan ukulele jelek yg masih dipetik dengan merdu. Aku menuju mobil jemputan dibelakang Kian.

Harus serba cepat. Penasaran ku sudah berada diubun-ubun. Tapi masih belum ingin meledak, tenang saja. Hari ini sengaja kuselesaikan pekerjaan dikantor dengan cepat, makan siang lahap cepat, jalan dari kantor cepat-cepat menuju stasiun. Ah aku tidak sabar melihat laki-laki tua itu. Dengan pakaian dan atribut yg sama ia memainkan ukulele jelek nya. Rasanya semakin hari semakin sedap didengar saja permainan musik yg ia lantunkan. Aku mulai mengintai.

Tiga minggu yg lalu saat aku masih datang kekantor untuk interview, itulah pertama kali aku melihat nya. Sebagai seorang pengamen dia sama sekali tidak menarik perhatian, dia hanya bersila merunduk dengan pakaian sama dari hari ke hari, sampai hari ini. Hingga aku ragu apakah dia bisa berdiri. Namun tidak menarik bukan berarti tak mengundang iba ku padanya. Setelah menemukan beberapa uang koin dalam kantong celana, kumasukkan dalam mangkuk merah yang diringi dengan suara gemerincing koin lain yg bertabrakan.
"Kepiting" Aku sontak terkejut, apa maksudnya berkata kepiting seperti itu? Perempuan gemuk dengan kulit putih bersih dan shall merah jambu melingkar pada lehernya yg tenggelam, juga mendekati si pak tua dan menaruh selembar uang seribuan dalam mangkuk. Ia berkata babi. Lalu datang seorang anak kecil dengan kulit gelap yg memberinya uang koin. Ia berkata coklat. Datang lagi seorang wanita cantik dengan sepatu hak perak sekitar 8 centi dan bando warna putih senada dengan pakainnya. Ia berkata manusia. Pria dengan tubuh jangkung, kumis tipis yg aneh dan surat kabar yg tergenggam ditangan kirinya ikut menyumbang memenuhkan mangkuk merah si pak tua itu. Namun ia berkata lele. Begitu seterusnya, dia selalu berkata aneh-aneh pada setiap orang yg beriba padanya.

Tapi aku mulai geram. Jangan-jangan dia berkata babi pada perempuan yg memberinya uang seribuan tadi, karena dia gendut? Dan laki2 jangkung dengan kumis nya yg agak aneh, sehingga dia berkata lele. Ah kurang ajar pengemis itu. Ah tidak tau diri sekali.
Hari ini benar benar harus kupastikan mengapa. Harus. Harus kupastikan apa maksudnya. Harus.

"Kambing" Dia berkata setelah aku melangkah kira-kira tiga langkah dari tempatnya bersila. Kemudian aku berbalik dan menghampirinya. Lebih tepatnya menanyai apa maksud dia berkata kambing seperti itu. Aku rasa aku tidak bau-bau sekali. Apalagi untuk bau kambing. Iuh. Aku telah menyemprotkan parfum kelas atas terbaru pada seluruh tubuhku. Memang manusia proletar itu tidak tau terima kasih.

"Maaf beribu sebelumnya, aku tidak bermaksud menghina bau badan non." Dia tertawa terbahak-bahak. Jelek sekali suaranya ditelingaku.
"Kalau bukan menghina apa maksud bapak berkata kambing seperti itu?" Aku mulai lega karena aku memang tidak bau kambing.
"Bukankah non siang tadi memesan sepuluh tusuk sate dan melahapnya cepat-cepat?" Tanya nya dengan senyum tak menggoda.
"Ya sate kambing. Bagaimana bapak bisa tau?" sahutku cepat dan heran.
"Keburukanku, aku bisa tau apa makanan terakhir yg orang lahap."
Kali ini dia tertawa dengan mulut yg terbuka lebar dari sebelumnya. Aku mulai mengikuti tawanya. Aku telah benar-benar bodoh berprasangka buruk pada si pemain ukulele ini. "Mohon maaf, pak." Aku memberikannya senyum yg paling elok yg pernah kuciptakan. Dadah pak, sepertinya Kian sudah datang. (tespsikologi)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar