Malam semakin larut. Bintang meminggir, terasing disilaunya
lampu-lampu jalanan Kota Surabaya.
Yang aku tau, perjalanan di malam minggu adalah perjalanan yang mempesona.
Semoga begitu.
15:51 21 September 2014
Diawali dengan beberapa jepretan
foto, kami berbaris didepan gedung perpustakaan lama Universitas Trunojoyo
Madura. Para senior itu selalu berkata dengan senyum yang jauh dari kata manis,
tapi seolah menggoda kami, hari ini adalah waktunya bersenang-senang dan jalan-jalan
anak-anak. Ini memang perjalanan dengan makna yang sesungguhnya, jalan.
Kami naik angkutan umum menuju arah
pelabuhan, aku duduk dikiri nona berbaju merah dipadu jilbab gelap yang
didepannya ada seorang ibu-ibu dengan dandanan yang cukup mencolok dimataku. Berbedak
tebal serta lipstik merah menyala, ini berbeda jauh dengan ibu-ibu yang berada
dikanan Fain temanku, berbeda juga dengan ibu-ibu berdaster yang duduk agak
kebelakang. Apakah ibu-ibu itu berbeda kasta sehingga berbeda pula penampilannya?
Atau sengaja bermake up tebal, berbaju lumayan apik supaya kastanya terlihat
berbeda meskipun sama? Memang perbedaan selalu terjadi dimana saja. Tiba-tiba
aku jadi teringat nenek ku, berboros ria mengeluarkan uang ratusan ribu hanya
untuk datang ke pernikahan keponakannya yang keturunan Camat Benowo. Aku
sedikit membenci nenek ku dikala dia gusar harus memakai baju apa, tas yang
bagaimana, sepatu yang seperti apa yang kiranya dipandang mewah oleh tamu-tamu
Si Bapak Camat itu. Sudahlah nek, biasa saja, kita tidak kaya-kaya amat kok, jangan
mencoba menipu diri sendiri lah nek, aku sayang nenek.
Tunjungan Plaza
Kira-kira
pukul tujuh, setelah kami berlayar menyebrangi selat dan duduk manis terdepan
dibus kota arah Tunjungan Plaza. Pusat perbelanjaan terbesar di Kota Pahlawan
ini kami masuki dengan tujuan wawancara, kami berempat terbagi dua, aku dengan Adam,
Fain bersama Saiful. Wawancara? Ini pertama kalinya aku masuk ke sebuah pusat
perbelanjaan dengan tujuan wawancara, biasanya kalau tidak duduk enak nonton
bioskop ya makan-makanan enak sampek perut kenyang. Sialan sekali aku.
Aku
sudah menebak dari awal, berinteraksi dengan orang-orang pengadun seperti
mereka akan menimbun amarah dihati mu. Mereka sombong sekali Tuhan, bahkan
untuk melihat wajahku saja mereka melirik, melirik dan amit-amit untuk melirik
lagi. Setiap pertanyaan yang aku ajukan selalu disikapi dengan jawaban yang
sangat-sangat singkat, “ya” “tidak” “tidak tau”. Menurutku aku sudah berbicara
semanis mungkin, menyamar sesamar mungkin, tapi rasanya tetap saja mereka ingin
segera berlari dari sampingku atau menampar keras-keras mulutku untuk berhenti
berinteraksi, berhenti bertanya atau sok akrab. Menghargai orang berbicara
sepertinya sudah hangus disini.
Disini
adalah tempat orang borjuis, tempat orang-orang membeli makanan tidak enak
dengan harga yang relatif mahal, tempat dimana kau bisa membuang-buang uang mu
yang daripada kau sumbangkan ke orang kurang beruntung disekelilingmu, dan
tempat dimana kau bisa terlihat kaya. Ya, mungkin tidak semua yang berkunjung
dimall ini adalah orang kaya, banyak juga orang yang sungguh-sungguh tidak kaya
tapi macak kaya, ikut-ikutan sombong, beli makanan mahal dengan uang pinjam
agar bisa dilihat orang lain sebagai orang kaya. Aku tiba-tiba geli berada ditempat
ini, aku jadi ingat kalau dulu aku sering main main kesini untuk nonton atau
sekedar ditraktir makan maka aku adalah bagian dari orang-orang ini, aku juga
dianggap salah satu orang sombong dan orang yang miskin interaksi. Sepertinya
aku harus mulai bertobat.
Taman Bungkul
Pergerakan
orang bermacam-macam, dengan tugas yang sama kami bergerak diantara mereka.
Mencari tahu bagaimana tempat ini bisa berdiri, berinteraksi dengan orang-orang
yang menempatkan dirinya disini. Taman ini sendiri ada sudah sejak lama, yang
dibangun delapan tahun yang lalu dan semakin dirapikan oleh Tri Rismaharini,
dulunya hanyalah sekotak lapangan dengan rumput-rumput kecil seadanya. Yang
menarik dari taman yang sukses menerima penghargaan sebagai taman terbaik
se-Asia ini adalah adanya makam Sunan Bungkul, ya meskipun pesona makamnya
sudah kalah menarik dari taman dan kegiatan yang ada disini.
Kami
memutuskan untuk duduk disebelah seorang pedagang lumpia, bersantai melipat
kaki, sambil sesekali mendongak melihat orang-orang berlalu lalang, tertawa
tersenyum dengan berbagai latar belakang. Aku sudah puas tadi berbagi tawa
dengan seorang pengunjung yang datang bersama anak-anaknya, aku juga sudah puas
tadi bertanya-tanya sok ingin tau kepada komunitas-komunitas yang duduk memanjakan
hewan-hewannya. Sekarang aku ingin tau, pedagang lumpia ini bisa memuaskanku
apa?
Aku
melempari nya senyum, aku sudah berasa menjadi orang gila saat itu. Tapi tetap
saja si pedagang lumpia tidak membalasku apa-apa. Apa hidup ini begitu kecut
hingga untuk tersenyum saja dia lupa? Aku mulai dengan berbasa-basi, menanyakan
beberapa hal yang amat-amat tidak penting. Lalu perbincangan kami semakin seru,
dia mulai liar menceritakan tentang kehidupannya, mulai lancang berbicara Tri
Risma adalah orang kejam nomor wahid.
“Gak
seneng mbak.” jawaban tegas lembut penuh kepastian keluar dari mulut pedagang
lumpia yang seusia dengan ku itu, saat aku iseng-iseng bertanya “Sampean suka
nggak sih sama Bu Risma?”. Aku tertawa,
tapi tidak bisa meninggalkan rasa heran bahwa perempuan pahlawan kota pahlawan
itu juga ada yang membenci. “Kelihatannya ndek tivi orange baik, tapi kalau
sama pedagang gini suka e marah-marah.” Aku diam. “Siapa yang suruh jualan
disini?” lanjutnya menirukan Rismaharini. “Ya kalau ndak jualan disini ya ndak
makan kan mbak?” dia menatapku merendah.
Ah Bu
Risma, ada juga cacat mu rupanya. Aku baru tau kalau engkau lebih menyayangi
taman mu daripada rakyat mu yang semalaman suntuk berjualan untuk bertahan
hidup dikota yang kau duduki ini. Cerita pedagang ini telah menamparku sadar
dari sifat ku yang terkagum-kagum dengan sosok mu, bu. Tolonglah bu, jika kau
masih bisa mendengar tolonglah dengar mereka. Berhentilah menyita alat pencari
nafkah mereka, jangan biarkan mereka keluarkan uang ratusan tibu untuk
mengambil barang mereka sendiri yang kau sita. Bu, tolong rapikan aparatmu,
jangan taman mu saja. Setelah itu, aku berpamit pergi, berkumpul dengan teman-teman
ku yang lain dipinggir taman. Semoga telinga Tri Rismaharini masih berfungsi
untuk mendengar cerita mu, mbak. Selamat malam, semoga bayi yang kau kandung
sehat.
22:46. Aku yakin, pandangan kami
berempat benar-benar tertuju pada raut muka Citra Dara, senior kami, yang
begitu semangat membuka pandangan kami sejak satu minggu yang lalu. Kata-kata nya begitu rapi masuk satu persatu
ketelinga ku, aku tidak mampu menjawab banyak, menyangga lebih, hanya
mengiyakan dalam hati. Setelah itu kami pergi ke sebuah tempat yang tidak
pernah kubayangkan sebelumnya, tidak pernah kuketahui bahwa tempat itu ternyata
benar-benar ada. Karena ini perjalanan, maka kami berjalan kaki.
Stasiun Wonokromo
Kami
beristirahat di warung kopi, bersama mereka aku jadi semakin dekat dengan
tempat seperti itu. Sembari menunggu polisi-polisi bubar dari tugas malam nya,
kami memesan beberapa wedang untuk menghangatkan sendi-sendi kami yang diterpa
angin malam. Waktu itu kira-kira pukul setengah satu dini hari, kantuk parah
menjemputku. Sepertinya aku ingin merebahkan badan, memejamkan mata, dan walaa,
aku akan tertidur dalam beberapa detik. Namun rupanya tidak mungkin, karena
kami (aku, adam, fain, saiful) masih harus berinteraksi menggali informasi
tentang pasar maling dan meleburkan diri ditengah sebuah tempat prostitusi
belakang stasiun kereta api Wonokromo Surabaya. Kami duduk (lagi-lagi) disebuah
warung kopi dekat palang pintu kereta api,
temanku memesan dua batang rokok, secangkir kopi, dan segelas teh hangat
untukku.
“… sejak Surabaya berdiri, pasar
maling sudah ada.” sahut bapak-bapak berkacamata dengan topi coklat muda dikepala.
Beliau adalah orang yang mudah menumpahkan isi kepalanya, menceritakan dengan
detail bagaimana pasar maling beroperasi dan tak sungkan berbicara tentang
keluarga nya. Kami hanya manggut-mangut sambil sesekali tersenyum dan melempar
pertanyaan, sedangkan si penjual hanya menimpali beberapa kata dengan senyuman
yang tak bisa kujelaskan kepadamu. Surabaya semakin bising jika berada dekat
dengan bapak itu, memang iya dia adalah orang yang begitu terbuka, begitu baik
mewanti-wanti kami untuk menjaga barang bawaan selama disini, tapi dia tak
mudah ditarik untuk menjelaskan prostitusi macam apa yang terjadi diarea ini?
Seolah menutupi, akhirnya kami menutup pembicaraan, lalu pamit pergi dengan
sopan cium tangan.
Rupanya pasar maling adalah tempat
dimana barang-barang dijual dengan harga murah yang tidak masuk akal, tapi
sebanding dengan berbagai penipuan yang juga tidak masuk akal. Bapak diwarkop
itu tadi menyarankan kami untuk tidak membeli barang elektronik di pasar maling
sana, karena sebagai orang awam kami tidak mungkin kalau tidak ditipu. Tapi
kalau untuk sekedar mencari pakaian atau alas kaki bapak itu
mengangguk-anggukkan kepala tanda memperbolehkan.
Aku dan Adam sepakat untuk tidak saling
mengenal saat berada ditempat berjual diri daerah wonokromo itu. Tangan ku
sempat dingin saat adam masuk meninggalkan ku ke rel-rel kerata yang diduduki
wanita-wanita siap pakai. Adam menghilang, setelah itu aku tidak tau apa yang
dia lakukan, sedangkan aku sendiri tidak tau harus berbuat apa. Kata mas Ghinan
aku tanya-tanya saja sama orang-orang yang ada disana, gali informasi. Tapi untuk
si adam, dia harus menawar wanita-wanita malam itu asal tak sampai deal. Kalau
deal? resiko ditanggung penawar. Aku berjalan sendiri, disetiap orang yang
berpapasan muka dengan ku melihatku aneh. Mereka mengernyitkan dahi seolah
berpikir, sedang apa anak muda berjilbab masuk ke area seperti ini? Sedang
nyamar atau nyasar?
Aku menuju toilet yang berada
diujung gang, toilet itu dijaga oleh seorang bapak-bapak yang mengaku orang
asli Gempol. Karena aku tidak tau dengan siapa aku harus berinteraksi malam
ini, ya ku putuskan saja merangkai pembicaraan dengan penjaga toilet disana.
“Ada apa ya pak kok disana banyak orang?” tanpa menunujuk tempat prostitusi itu
si bapak langsung paham dan tertawa. “Lho sampean nggak tau ta? ini tempat
orang nakal mbak.” melanjutkan tawa nya. “Orang nakal?” tanyaku, beliau tertawa
lagi. “Sampean orang mana toh mbak kok ndak tau?” “Sidoarjo pak” “Nah orang
sidoarjo kok nggak tau? Memang mungkin jarang keluar ya?” Aku mengangguk dan
tersenyum. “Kupu-kupu malam.” lanjutnya.
Tempat ini juga sudah lama, penjual
nya tak hanya orang-orang tua, anak-anak muda seusiaku pun katanya ada, kata
bapak itu. “Motif mereka disini itu beda-beda mbak, ya setiap orang kan punya
jalan dan cerita hidup masing-masing yang tidak seorangpun bisa mengerti.”
Bapak ini tiba-tiba bijak, pikirku. “Kalau ini dibuyarkan, mereka juga mau
makan apa? Malah mungkin jualnya nanti ngawur dipinggir jalan-jalan besar.” Aku
terdiam. “Orang-orang itu nggak tau mbak, nggak kenal soalnya, makanya bisa
seenak nya sendiri.” Aku mulai paham.
“Siapa pak?” terdengar suara
perempuan dari belakang ku. “Nunggu kereta dia, datang nya kepagian.” bapak itu
tertawa lagi. Aku menoleh dan memasang senyum ke suara wanita dibelakangku.
“Jangan disini lah mbak, ini tempat nggak baik.” Kemudian perempuan berambut
panjang lurus itu pergi dengan cepat seolah menghindari ku. “Siapa pak?”
tanyaku. “Ya kupu-kupu malam disini lah mbak, siapa lagi?” Pembicaraan kami
sebenarnya semakin seru kalau seandainya mas citra tidak tiba-tiba datang dan
menanyai ku. Bukan perkara apa, aku hanya mengaku pada bapak penjaga toilet
kalau aku disini sendirian, sekali lagi sendirian. Nah bisa bayangkan bagaimana
pikiran bapak itu saat mas citra datang dan menanyai ku? Aku berjalan cepat,
meninggalkan mereka berdua. Aku tak sempat melihat raut muka dari bapak itu,
aku bahkan belum mengucapkan terima kasih atau kata-kata seperti apa yang bisa
membuat perpisahan kami terasa indah. Dadah pak, maaf aku berbohong.
Pasar Waru
Sebenarnya
tempat ini tak asing bagiku, tapi kalau untuk berinteraksi dengan orang-orang
yang berada disini sejujurnya aku memang tidak pernah. Masuk waktu subuh, aku
dan teman-teman ku memutuskan untuk shalat subuh disebuah masjid diarea pasar
ini. Orang sidoarjo memang bersih hatinya, beberapa ibu-ibu yang datang dengan
suka cita menyerahkan sebuah kaca lengkap dengan pupurnya kepada ku. Aku hanya
mengambil kacanya, menggunakan dan mengembalikan dengan ucapan terima kasih
selapang-lapang nya. Oh, tidak cukup disitu pemirsa, ibu itu memberi aku kucur,
hmmm yummy. Aku sudah lama tidak makan ini, ah asyik nya. Sembari itu, kami
berbincang-bincang yang rupanya pasar ini banyak pungutan nya: pungutan preman,
pungutan sampah, pungutan tempat (pedagang membayar kompensasi kepada orang
yang rumah nya ditempati berjualan).
Di
pasar waru ini juga, saya bertemu dengan bapak-bapak atau lebih tepatnya
kakek-kakek yang berjualan gorengan. Sial, aku tidak bisa kalau tidak ikut
membantu membeli makanan nya. Pak Subai, begitu beliau menyebutkan nama nya
kepada ku. Wajah tua beliau mengingatkan ku pada kedua buyut ku dirumah, rindu
ini tiba-tiba datang memeluk hangat. Pak Subai, tangan nya bergetar waktu
bersalaman dengan ku. Pak subai, menasehati ku agar selalu meningat Tuhan.
Beliau berulang kali berkata iman-iman-iman seolah menepukku keras agar tak
melupakan kata itu.
Jangan melupakan Tuhan, bahaya nya
adalah kalau Tuhan yang melupakan mu! Kurang lebih seperti itulah artinya dalam
bahasa Indonesia. Pak Subai yang saat ini dengan usinya 96 tahun adalah lelaki
hebat yang pernah menghidupi enam istrinya meskipun beliau sama sekali tak
mempunyai anak, beliau tetap hebat. Sudah tak usah banyak komentar!
Terminal Purabaya
Alhamdulillah
ini adalah tempat terakhir. Pukul enam, kantuk ku sudah pergi, mungkin dia
ngambek karena tak kupedulikan. Ini merupakan pengalaman pertama bersarapan di
Terminal dekat rumah ku, apalagi dengan dua bungkus nasi pecel yang disantap 4
orang. Setelah ini, seperti biasa, kami menyebar, berinteraksi.
Kebetulan
aku dan temen ku saiful merapat dengan mantan sopir yang diterpa trauma untuk
mengemudi. Beliau bercerita kendaraan nya terbalik tak karuan dalam kecelakaan
itu, kuasa Tuhan lah yang membuat beliau hidup dan masuk akal. Ini mungkin tempat yang benar-benar penuh
kesibukan daripada beberapa tempat yang aku kunjungi sebelumnya. Orang-orang
nya cukup galak menganggap kita menganggu berada di terminal ini tanpa kota
tujuan. Jawaban dari pertanyaan kami pun dikeluarkan cukup ketus. Nah benar
memang apa kata mas senior, kita harus berhati-hati disini. Selain bapak dengan
pengalaman traumanya itu, kami juga berbincang dengan pedagang asongan yang
berbeda dari umumnya. Pedagang asongan itu adalah ibu-ibu dengan umur lebih
dari setengah abad yang hanya membawa kantong plastik berisikan
tumpukan-tumpukan rokok.
Yang
aku ingat adalah bagaimana senior kami memancing teman ku untuk membeli rokok
di indomaret lalu ditertawakan dan dikatai gagal. Mas, aku ingat betul ya.
Dimanapun kapanpun yang nama nya
perjalanan selalu terdengar sedap dan terasa mantab.
Perjalanan akan membuat mu banyak tau, menyelamatkan mu dari kebodohan, dan
melebarkan daya kepekaan mu. Cobalah!