Rabu, 18 Februari 2015

Sepersekian Detik

                Kalau saja aku di beri sedikit ruang, kalau saja ada jalan untukku, kalau saja aku tidak terlambat sepersekian detik, pasti putri masih bersama ku. Setidak nya aku masih mendengar tawa nya, melihat senyum nya, dan menatap nya.
                Tepat kira kira dua belas siang waktu setempat, entah hal bodoh apa yang di lakukan para polisi yang berjejeran sehingga mereka melarang kami melewati jalan itu. Meskipun aku dan adik laki laki ku memohon dengan bertekuk lutut mereka juga tidak mau, polisi polisi gila.
                Terpaksanya, kami harus berputar 270 derajat dan menempuh perjalanan yang terlampau jauh. Dan, hari ini tidak ada yang berpihak pada kami. Tidak ada yang mengerti kami, bahkan tidak mau mengerti. Bagaimana aku bisa tahan dengan kemacetan seperti ini? Bagaimana aku bisa tahan kalau mobil ini sama sekali tidak bisa jalan? Bagaimana aku bisa tahan kalau aku tau aku tidak punya banyak waktu sementara aku hanya diam disini? Aku mau berlari, menggendong nya, aku tidak peduli matahari, tidak peduli juga kumpulan polusi, aku bahkan tidak pernah peduli orang orang yang melihat ku. Aku masih berlari, diantara kendaraan kendaraan bodoh yang berhenti. Aku masih berlari, diantara orang orang yang melihat ku risih. Aku masih berlari, dengan menangis pedih.
 “Tuhan, selamatkan Putri!” Aku tidak bisa menghitung berapa banyak kata itu keluar dari mulutku. Bahkan sampai dia masuk ke Unit Gawat Darurat, aku masih saja berucap “Tuhan, selamatkan Putri!”
                Dasar dokter gila, seperti itu saja tidak bisa! Ini yang di sebut pelayanan? “Ini takdir bu. Ibu terlambat sepersekian detik.” Sampai mana semua berucap ini takdir? Sampai mana orang orang membawa nama takdir untuk menawarkan semua nya? Ini sangat pahit, paham lah! Aku tidak berjanji mampu hidup tanpa peri kecil ini, aku tidak berjanji untuk bisa menerima semua nya. “Tuhan, sambung nyawa Putri!”
                Bodoh, gila, sableng, stress.. Egois! Jadi ya gara gara wakil rakyat yang lewat jalan harus di kosongkan, jalan tidak boleh di lewati. Lalu apa wakil rakyat itu mau tanggung jawab atas segala yang ku alami? Mau tanggung jawab, kalau putri sudah pergi begini? Mau nempui keterlambatan ku yang sepersekian detik itu? “Tuhan, kembalikan Putri!”

Senin, 08 Desember 2014

Kenaikan BBM




Sebab kenaikan bbm menjadi perbincangan hangat sepanjang hari bagi seluruh masyarakat negara kami, baik pagi hingga matahari tenggelam lagi. Inikan tentang uang dua ribu saja, kadang rakyat suka manja-manja. Apa-apa minta murah, dimana-mana harus sedia. Ah tapikan memang tugas negara seperti itu. Seperti harus mensejahterahkan rakyat nya, bikin kebijakan yang sekira nya enggak bikin susah.

Hari ini kami dibikin sedih, kala bangga membara-bara merah untuk pemimpin kami yang banyak orang mengatai dia peduli. Belum, dia belum sedang apa-apa pada jabatannya. Tapi keputusannya berhasil buat mulut kami menganga. Menaikkan harga bbm pada harga minyak sedang turun apa ibu ku pun tak turut kepalkan tangan. Ini gaji ayah ku sudah tak naik-naik, bbm sudah kepedean naik.

Naik nya harga bbm ku dikompensasikan untuk pembangunan infrastruktur bagi jalan-jalan kuno yang masih "berlemah" dipelosok negeri. Untuk didekat-dekat rumah, aku bisa melihat nya pada pembangunan jalan-jalan tol tinggi bermeter-meter di atas kepala kami yang berhasil mengusir paksa hunian dimana kenyamanan hidup telah kami dapatkan disana. Memang negara membeli hunian kami dengan harga tinggi, tapi tentang kenyamanan bisa beli dimana dengan uang kompensasi ini?

Lebih dari itu, dengan naik nya harga bbm maka mengurangi anggaran negara terhadap bbm bersubsidi. Anggaran itu digunakan untuk pembuatan kartu sakti: kartu sehat, kartu pintar. Yang awalnya presiden kami tidak terus terang bahwa uang dari kartu-kartu itu didapat karena naik nya harga bbm. Ah kalaulah si pemimpin bilang dari awal, boleh jadi banyak orang gugur memilih nya.

Sekarang semua sudah naik. Bihun goreng yang awalnya dua belas ribu jadi empat belas ribu, aduh. Dari rumah ku ke purabaya naik bemo biru empat ribu jadi lima ribu, buset. Kalau isi bensin full buat seminggu ke di Madura dua puluh dua ribu jadi tiga puluh ribu, Ya Tuhan. Lalu mau gak kuliah di madura? Lalu untuk tante ku mau nggak kerja kalau angkot naik? Mau nggak beli bihun goreng kalau sedang ingin-ingin nya? Ha? Mau memberhentikan hidup kalau bbm sudah jadi begini? Ayah pernah bertanya itu pada ku. Sehingga betul kata teman ku (sebut saja ipul, satunya adam), mau bbm naik berapa pun rakyat toh juga akan beli, mau nggak naik pun lama-lama juga pasti naik yang nama nya bbm itu. Karena bbm kan bukan bahan yang bisa didaur ulang. Jadi mau naik sekarang, besok, besok-besok, juga pasti naik. Cuma masalah waktu. Ah ayah ku memang salah satu rakyat indonesia yang pasrah, tabah, nerima. Tapi pernah aku baca satu buku waktu smk (aku lupa judulnya), seseorang juga bilang ini. Terlalu tabah, pasrah, nerima itu beda tipis sama bodoh. Benar kan? Kalau di kasih kebijakan ini sabar tabah nerima, dikasih kebijakan itu sabar tabah nerima padahal bikin hancur pelan-pelan tulang punggung, kan bodoh nama nya kalau gak protes?

Naik nya bbm memang bikin ngilu. Yang ngilu itu orang-orang miskin yang kebetulan bisa kredit motor dan orang-orang miskin yang nggak punya motor tapi bekerja nya butuh bbm. Kalau orang-orang mampu, mau bbm naik di angka berapa pun mah sanggup beli dengan gaji mereka yang lebih-lebih. Lha menurutku dengan dinaikkan nya bbm nggak mengurangi orang kaya dalam sumbangsih nya menggunakan bbm bersubsidi karena toh mampu beli.

Lagi pula si moncong putih ini sangar sekali menghianati ideologi politik nya sendiri. Ah mana moto nya "partai ne wong cilik"? mana? Dulu jaman SBY, seingat ku, dia menjadi partai yang tidak setuju pada keniakan harga bbm. Tapi sekarang waktu sudah 'mbegagah' diatas, lidah mereka seolah terbalik karena dengan sigap tancap gas bikin keputusan duaribu. Baik sekali selama ini si moncong putih menarik hati penghuni negeri.

Lantas kenaikan bbm ini mungkin kah tak akan naik lagi? Masak sih hanya berhenti pada angka delapan ribu lima ratus? Aku jadi ingat kata seorang guru favorite ku waktu smk, waktu bbm naik jadi enam setengah. Tau pom bensim selain pertamina? Yang warna cat nya bukan merah tapi kuning atau biru? Pom bensin itu hari ini memang masih sepi, tapi lihatlah nanti setelah harga bbm semakin naik mendekati nominal penjualan mereka maka pom pom itu akan dengan sendirinya ramai. Itulah alasan mengapa mereka masih sepi tapi nekat berdiri. Mereka tau kalau anngka bbm lambat laun akan mendekati angka penjualan mereka. Setauku harga bbm di pom kuning atau biru relatif stabil. Paling murah sepuluh ribu, paling mahal ya dua belas ribu. Nah kalau benar bbm pertamina berharga sama maka yang terjadi, masyarakat kita akan pindah haluan pada pom kuning atau biru. Mengapa? Jelas. Karena harga yang sama tapi kualitas bbm kuning jauh lebih bermutu. Lalu sakitlah perusahaan besar negara kami.

Kanapa bisa begitu? Karena Indonesia memiliki hutang pada bank dunia yang milik sebuah keluarga dan harus membuat kesepakatan. Kesepakatan nya apa? Ya ini tadi, kebijakan pemerintah yang kalian-kalian rasai. Mungkin dengan kata lain presiden cuma simbol saja, tapi yang sebenarnya menjalankan adalah orang-orang yang menghutangi indonesia. Aku sedih tujuh keliling.

Lima Scene


Malam semakin larut. Bintang meminggir, terasing disilaunya lampu-lampu jalanan Kota Surabaya.
Yang aku tau, perjalanan di malam minggu adalah perjalanan yang mempesona. Semoga begitu.


 15:51 21 September 2014
Diawali dengan beberapa jepretan foto, kami berbaris didepan gedung perpustakaan lama Universitas Trunojoyo Madura. Para senior itu selalu berkata dengan senyum yang jauh dari kata manis, tapi seolah menggoda kami, hari ini adalah waktunya bersenang-senang dan jalan-jalan anak-anak. Ini memang perjalanan dengan makna yang sesungguhnya, jalan.
Kami naik angkutan umum menuju arah pelabuhan, aku duduk dikiri nona berbaju merah dipadu jilbab gelap yang didepannya ada seorang ibu-ibu dengan dandanan yang cukup mencolok dimataku. Berbedak tebal serta lipstik merah menyala, ini berbeda jauh dengan ibu-ibu yang berada dikanan Fain temanku, berbeda juga dengan ibu-ibu berdaster yang duduk agak kebelakang. Apakah ibu-ibu itu berbeda kasta sehingga berbeda pula penampilannya? Atau sengaja bermake up tebal, berbaju lumayan apik supaya kastanya terlihat berbeda meskipun sama? Memang perbedaan selalu terjadi dimana saja. Tiba-tiba aku jadi teringat nenek ku, berboros ria mengeluarkan uang ratusan ribu hanya untuk datang ke pernikahan keponakannya yang keturunan Camat Benowo. Aku sedikit membenci nenek ku dikala dia gusar harus memakai baju apa, tas yang bagaimana, sepatu yang seperti apa yang kiranya dipandang mewah oleh tamu-tamu Si Bapak Camat itu. Sudahlah nek, biasa saja, kita tidak kaya-kaya amat kok, jangan mencoba menipu diri sendiri lah nek, aku sayang nenek.

Tunjungan Plaza
                Kira-kira pukul tujuh, setelah kami berlayar menyebrangi selat dan duduk manis terdepan dibus kota arah Tunjungan Plaza. Pusat perbelanjaan terbesar di Kota Pahlawan ini kami masuki dengan tujuan wawancara, kami berempat terbagi dua, aku dengan Adam, Fain bersama Saiful. Wawancara? Ini pertama kalinya aku masuk ke sebuah pusat perbelanjaan dengan tujuan wawancara, biasanya kalau tidak duduk enak nonton bioskop ya makan-makanan enak sampek perut kenyang. Sialan sekali aku.
                Aku sudah menebak dari awal, berinteraksi dengan orang-orang pengadun seperti mereka akan menimbun amarah dihati mu. Mereka sombong sekali Tuhan, bahkan untuk melihat wajahku saja mereka melirik, melirik dan amit-amit untuk melirik lagi. Setiap pertanyaan yang aku ajukan selalu disikapi dengan jawaban yang sangat-sangat singkat, “ya” “tidak” “tidak tau”. Menurutku aku sudah berbicara semanis mungkin, menyamar sesamar mungkin, tapi rasanya tetap saja mereka ingin segera berlari dari sampingku atau menampar keras-keras mulutku untuk berhenti berinteraksi, berhenti bertanya atau sok akrab. Menghargai orang berbicara sepertinya sudah hangus disini.
                Disini adalah tempat orang borjuis, tempat orang-orang membeli makanan tidak enak dengan harga yang relatif mahal, tempat dimana kau bisa membuang-buang uang mu yang daripada kau sumbangkan ke orang kurang beruntung disekelilingmu, dan tempat dimana kau bisa terlihat kaya. Ya, mungkin tidak semua yang berkunjung dimall ini adalah orang kaya, banyak juga orang yang sungguh-sungguh tidak kaya tapi macak kaya, ikut-ikutan sombong, beli makanan mahal dengan uang pinjam agar bisa dilihat orang lain sebagai orang kaya. Aku tiba-tiba geli berada ditempat ini, aku jadi ingat kalau dulu aku sering main main kesini untuk nonton atau sekedar ditraktir makan maka aku adalah bagian dari orang-orang ini, aku juga dianggap salah satu orang sombong dan orang yang miskin interaksi. Sepertinya aku harus mulai bertobat.

Taman Bungkul
                Pergerakan orang bermacam-macam, dengan tugas yang sama kami bergerak diantara mereka. Mencari tahu bagaimana tempat ini bisa berdiri, berinteraksi dengan orang-orang yang menempatkan dirinya disini. Taman ini sendiri ada sudah sejak lama, yang dibangun delapan tahun yang lalu dan semakin dirapikan oleh Tri Rismaharini, dulunya hanyalah sekotak lapangan dengan rumput-rumput kecil seadanya. Yang menarik dari taman yang sukses menerima penghargaan sebagai taman terbaik se-Asia ini adalah adanya makam Sunan Bungkul, ya meskipun pesona makamnya sudah kalah menarik dari taman dan kegiatan yang ada disini.
                Kami memutuskan untuk duduk disebelah seorang pedagang lumpia, bersantai melipat kaki, sambil sesekali mendongak melihat orang-orang berlalu lalang, tertawa tersenyum dengan berbagai latar belakang. Aku sudah puas tadi berbagi tawa dengan seorang pengunjung yang datang bersama anak-anaknya, aku juga sudah puas tadi bertanya-tanya sok ingin tau kepada komunitas-komunitas yang duduk memanjakan hewan-hewannya. Sekarang aku ingin tau, pedagang lumpia ini bisa memuaskanku apa?
                Aku melempari nya senyum, aku sudah berasa menjadi orang gila saat itu. Tapi tetap saja si pedagang lumpia tidak membalasku apa-apa. Apa hidup ini begitu kecut hingga untuk tersenyum saja dia lupa? Aku mulai dengan berbasa-basi, menanyakan beberapa hal yang amat-amat tidak penting. Lalu perbincangan kami semakin seru, dia mulai liar menceritakan tentang kehidupannya, mulai lancang berbicara Tri Risma adalah orang kejam nomor wahid.
                “Gak seneng mbak.” jawaban tegas lembut penuh kepastian keluar dari mulut pedagang lumpia yang seusia dengan ku itu, saat aku iseng-iseng bertanya “Sampean suka nggak sih sama Bu Risma?”.  Aku tertawa, tapi tidak bisa meninggalkan rasa heran bahwa perempuan pahlawan kota pahlawan itu juga ada yang membenci. “Kelihatannya ndek tivi orange baik, tapi kalau sama pedagang gini suka e marah-marah.” Aku diam. “Siapa yang suruh jualan disini?” lanjutnya menirukan Rismaharini. “Ya kalau ndak jualan disini ya ndak makan kan mbak?” dia menatapku merendah.
                Ah Bu Risma, ada juga cacat mu rupanya. Aku baru tau kalau engkau lebih menyayangi taman mu daripada rakyat mu yang semalaman suntuk berjualan untuk bertahan hidup dikota yang kau duduki ini. Cerita pedagang ini telah menamparku sadar dari sifat ku yang terkagum-kagum dengan sosok mu, bu. Tolonglah bu, jika kau masih bisa mendengar tolonglah dengar mereka. Berhentilah menyita alat pencari nafkah mereka, jangan biarkan mereka keluarkan uang ratusan tibu untuk mengambil barang mereka sendiri yang kau sita. Bu, tolong rapikan aparatmu, jangan taman mu saja. Setelah itu, aku berpamit pergi, berkumpul dengan teman-teman ku yang lain dipinggir taman. Semoga telinga Tri Rismaharini masih berfungsi untuk mendengar cerita mu, mbak. Selamat malam, semoga bayi yang kau kandung sehat.
22:46. Aku yakin, pandangan kami berempat benar-benar tertuju pada raut muka Citra Dara, senior kami, yang begitu semangat membuka pandangan kami sejak satu minggu yang lalu.  Kata-kata nya begitu rapi masuk satu persatu ketelinga ku, aku tidak mampu menjawab banyak, menyangga lebih, hanya mengiyakan dalam hati. Setelah itu kami pergi ke sebuah tempat yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya, tidak pernah kuketahui bahwa tempat itu ternyata benar-benar ada. Karena ini perjalanan, maka kami berjalan kaki.

Stasiun Wonokromo
                Kami beristirahat di warung kopi, bersama mereka aku jadi semakin dekat dengan tempat seperti itu. Sembari menunggu polisi-polisi bubar dari tugas malam nya, kami memesan beberapa wedang untuk menghangatkan sendi-sendi kami yang diterpa angin malam. Waktu itu kira-kira pukul setengah satu dini hari, kantuk parah menjemputku. Sepertinya aku ingin merebahkan badan, memejamkan mata, dan walaa, aku akan tertidur dalam beberapa detik. Namun rupanya tidak mungkin, karena kami (aku, adam, fain, saiful) masih harus berinteraksi menggali informasi tentang pasar maling dan meleburkan diri ditengah sebuah tempat prostitusi belakang stasiun kereta api Wonokromo Surabaya. Kami duduk (lagi-lagi) disebuah warung kopi dekat palang pintu kereta api,  temanku memesan dua batang rokok, secangkir kopi, dan segelas teh hangat untukku.
“… sejak Surabaya berdiri, pasar maling sudah ada.” sahut bapak-bapak berkacamata dengan topi coklat muda dikepala. Beliau adalah orang yang mudah menumpahkan isi kepalanya, menceritakan dengan detail bagaimana pasar maling beroperasi dan tak sungkan berbicara tentang keluarga nya. Kami hanya manggut-mangut sambil sesekali tersenyum dan melempar pertanyaan, sedangkan si penjual hanya menimpali beberapa kata dengan senyuman yang tak bisa kujelaskan kepadamu. Surabaya semakin bising jika berada dekat dengan bapak itu, memang iya dia adalah orang yang begitu terbuka, begitu baik mewanti-wanti kami untuk menjaga barang bawaan selama disini, tapi dia tak mudah ditarik untuk menjelaskan prostitusi macam apa yang terjadi diarea ini? Seolah menutupi, akhirnya kami menutup pembicaraan, lalu pamit pergi dengan sopan cium tangan.
Rupanya pasar maling adalah tempat dimana barang-barang dijual dengan harga murah yang tidak masuk akal, tapi sebanding dengan berbagai penipuan yang juga tidak masuk akal. Bapak diwarkop itu tadi menyarankan kami untuk tidak membeli barang elektronik di pasar maling sana, karena sebagai orang awam kami tidak mungkin kalau tidak ditipu. Tapi kalau untuk sekedar mencari pakaian atau alas kaki bapak itu mengangguk-anggukkan kepala tanda memperbolehkan.
Aku dan Adam sepakat untuk tidak saling mengenal saat berada ditempat berjual diri daerah wonokromo itu. Tangan ku sempat dingin saat adam masuk meninggalkan ku ke rel-rel kerata yang diduduki wanita-wanita siap pakai. Adam menghilang, setelah itu aku tidak tau apa yang dia lakukan, sedangkan aku sendiri tidak tau harus berbuat apa. Kata mas Ghinan aku tanya-tanya saja sama orang-orang yang ada disana, gali informasi. Tapi untuk si adam, dia harus menawar wanita-wanita malam itu asal tak sampai deal. Kalau deal? resiko ditanggung penawar. Aku berjalan sendiri, disetiap orang yang berpapasan muka dengan ku melihatku aneh. Mereka mengernyitkan dahi seolah berpikir, sedang apa anak muda berjilbab masuk ke area seperti ini? Sedang nyamar atau nyasar?
Aku menuju toilet yang berada diujung gang, toilet itu dijaga oleh seorang bapak-bapak yang mengaku orang asli Gempol. Karena aku tidak tau dengan siapa aku harus berinteraksi malam ini, ya ku putuskan saja merangkai pembicaraan dengan penjaga toilet disana. “Ada apa ya pak kok disana banyak orang?” tanpa menunujuk tempat prostitusi itu si bapak langsung paham dan tertawa. “Lho sampean nggak tau ta? ini tempat orang nakal mbak.” melanjutkan tawa nya. “Orang nakal?” tanyaku, beliau tertawa lagi. “Sampean orang mana toh mbak kok ndak tau?” “Sidoarjo pak” “Nah orang sidoarjo kok nggak tau? Memang mungkin jarang keluar ya?” Aku mengangguk dan tersenyum. “Kupu-kupu malam.” lanjutnya.
Tempat ini juga sudah lama, penjual nya tak hanya orang-orang tua, anak-anak muda seusiaku pun katanya ada, kata bapak itu. “Motif mereka disini itu beda-beda mbak, ya setiap orang kan punya jalan dan cerita hidup masing-masing yang tidak seorangpun bisa mengerti.” Bapak ini tiba-tiba bijak, pikirku. “Kalau ini dibuyarkan, mereka juga mau makan apa? Malah mungkin jualnya nanti ngawur dipinggir jalan-jalan besar.” Aku terdiam. “Orang-orang itu nggak tau mbak, nggak kenal soalnya, makanya bisa seenak nya sendiri.” Aku mulai paham.
“Siapa pak?” terdengar suara perempuan dari belakang ku. “Nunggu kereta dia, datang nya kepagian.” bapak itu tertawa lagi. Aku menoleh dan memasang senyum ke suara wanita dibelakangku. “Jangan disini lah mbak, ini tempat nggak baik.” Kemudian perempuan berambut panjang lurus itu pergi dengan cepat seolah menghindari ku. “Siapa pak?” tanyaku. “Ya kupu-kupu malam disini lah mbak, siapa lagi?” Pembicaraan kami sebenarnya semakin seru kalau seandainya mas citra tidak tiba-tiba datang dan menanyai ku. Bukan perkara apa, aku hanya mengaku pada bapak penjaga toilet kalau aku disini sendirian, sekali lagi sendirian. Nah bisa bayangkan bagaimana pikiran bapak itu saat mas citra datang dan menanyai ku? Aku berjalan cepat, meninggalkan mereka berdua. Aku tak sempat melihat raut muka dari bapak itu, aku bahkan belum mengucapkan terima kasih atau kata-kata seperti apa yang bisa membuat perpisahan kami terasa indah. Dadah pak, maaf aku berbohong.

Pasar Waru
                Sebenarnya tempat ini tak asing bagiku, tapi kalau untuk berinteraksi dengan orang-orang yang berada disini sejujurnya aku memang tidak pernah. Masuk waktu subuh, aku dan teman-teman ku memutuskan untuk shalat subuh disebuah masjid diarea pasar ini. Orang sidoarjo memang bersih hatinya, beberapa ibu-ibu yang datang dengan suka cita menyerahkan sebuah kaca lengkap dengan pupurnya kepada ku. Aku hanya mengambil kacanya, menggunakan dan mengembalikan dengan ucapan terima kasih selapang-lapang nya. Oh, tidak cukup disitu pemirsa, ibu itu memberi aku kucur, hmmm yummy. Aku sudah lama tidak makan ini, ah asyik nya. Sembari itu, kami berbincang-bincang yang rupanya pasar ini banyak pungutan nya: pungutan preman, pungutan sampah, pungutan tempat (pedagang membayar kompensasi kepada orang yang rumah nya ditempati berjualan).
                Di pasar waru ini juga, saya bertemu dengan bapak-bapak atau lebih tepatnya kakek-kakek yang berjualan gorengan. Sial, aku tidak bisa kalau tidak ikut membantu membeli makanan nya. Pak Subai, begitu beliau menyebutkan nama nya kepada ku. Wajah tua beliau mengingatkan ku pada kedua buyut ku dirumah, rindu ini tiba-tiba datang memeluk hangat. Pak Subai, tangan nya bergetar waktu bersalaman dengan ku. Pak subai, menasehati ku agar selalu meningat Tuhan. Beliau berulang kali berkata iman-iman-iman seolah menepukku keras agar tak melupakan kata itu.
Jangan melupakan Tuhan, bahaya nya adalah kalau Tuhan yang melupakan mu! Kurang lebih seperti itulah artinya dalam bahasa Indonesia. Pak Subai yang saat ini dengan usinya 96 tahun adalah lelaki hebat yang pernah menghidupi enam istrinya meskipun beliau sama sekali tak mempunyai anak, beliau tetap hebat. Sudah tak usah banyak komentar!

Terminal Purabaya
                Alhamdulillah ini adalah tempat terakhir. Pukul enam, kantuk ku sudah pergi, mungkin dia ngambek karena tak kupedulikan. Ini merupakan pengalaman pertama bersarapan di Terminal dekat rumah ku, apalagi dengan dua bungkus nasi pecel yang disantap 4 orang. Setelah ini, seperti biasa, kami menyebar, berinteraksi.
                Kebetulan aku dan temen ku saiful merapat dengan mantan sopir yang diterpa trauma untuk mengemudi. Beliau bercerita kendaraan nya terbalik tak karuan dalam kecelakaan itu, kuasa Tuhan lah yang membuat beliau hidup dan masuk akal.  Ini mungkin tempat yang benar-benar penuh kesibukan daripada beberapa tempat yang aku kunjungi sebelumnya. Orang-orang nya cukup galak menganggap kita menganggu berada di terminal ini tanpa kota tujuan. Jawaban dari pertanyaan kami pun dikeluarkan cukup ketus. Nah benar memang apa kata mas senior, kita harus berhati-hati disini. Selain bapak dengan pengalaman traumanya itu, kami juga berbincang dengan pedagang asongan yang berbeda dari umumnya. Pedagang asongan itu adalah ibu-ibu dengan umur lebih dari setengah abad yang hanya membawa kantong plastik berisikan tumpukan-tumpukan rokok.
                Yang aku ingat adalah bagaimana senior kami memancing teman ku untuk membeli rokok di indomaret lalu ditertawakan dan dikatai gagal. Mas, aku ingat betul ya.

Dimanapun kapanpun yang nama nya perjalanan selalu terdengar sedap dan terasa mantab.
Perjalanan akan membuat mu banyak tau, menyelamatkan mu dari kebodohan, dan melebarkan daya kepekaan mu. Cobalah!

Depan Stasiun dan Kakek Ukulele.






 Cawan merah. Topi hitam kumal. Aku masih menaruh heran sore itu, pada seorang lelaki proletar yang bersila didepan pemberhentian kereta api sebuah kota besar dijawa. Sembari menunggu adik lelaki ku, aku sengaja mendekatinya. Kali ini aku ingin mendengar ceracau nya dengan jelas.
 
Ayam, apel, singkong, roti. Kata itu ia ucapkan pada empat orang yang memberi uang receh pada mangkuk merah retak didepannya. Dia masih memetik ukulele jelek dengan petikan-petikan merdu. Kian, memporak-parikan pandangan ku. Menepuk pundakku dan aku tersontak kaget. Sial. Untung saja adikku, kalau tidak mungkin aku sudah melahapnya bulat-bulat. Aku meninggal kan laki-laki tua dengan ukulele jelek yg masih dipetik dengan merdu. Aku menuju mobil jemputan dibelakang Kian.

Harus serba cepat. Penasaran ku sudah berada diubun-ubun. Tapi masih belum ingin meledak, tenang saja. Hari ini sengaja kuselesaikan pekerjaan dikantor dengan cepat, makan siang lahap cepat, jalan dari kantor cepat-cepat menuju stasiun. Ah aku tidak sabar melihat laki-laki tua itu. Dengan pakaian dan atribut yg sama ia memainkan ukulele jelek nya. Rasanya semakin hari semakin sedap didengar saja permainan musik yg ia lantunkan. Aku mulai mengintai.

Tiga minggu yg lalu saat aku masih datang kekantor untuk interview, itulah pertama kali aku melihat nya. Sebagai seorang pengamen dia sama sekali tidak menarik perhatian, dia hanya bersila merunduk dengan pakaian sama dari hari ke hari, sampai hari ini. Hingga aku ragu apakah dia bisa berdiri. Namun tidak menarik bukan berarti tak mengundang iba ku padanya. Setelah menemukan beberapa uang koin dalam kantong celana, kumasukkan dalam mangkuk merah yang diringi dengan suara gemerincing koin lain yg bertabrakan.
"Kepiting" Aku sontak terkejut, apa maksudnya berkata kepiting seperti itu? Perempuan gemuk dengan kulit putih bersih dan shall merah jambu melingkar pada lehernya yg tenggelam, juga mendekati si pak tua dan menaruh selembar uang seribuan dalam mangkuk. Ia berkata babi. Lalu datang seorang anak kecil dengan kulit gelap yg memberinya uang koin. Ia berkata coklat. Datang lagi seorang wanita cantik dengan sepatu hak perak sekitar 8 centi dan bando warna putih senada dengan pakainnya. Ia berkata manusia. Pria dengan tubuh jangkung, kumis tipis yg aneh dan surat kabar yg tergenggam ditangan kirinya ikut menyumbang memenuhkan mangkuk merah si pak tua itu. Namun ia berkata lele. Begitu seterusnya, dia selalu berkata aneh-aneh pada setiap orang yg beriba padanya.

Tapi aku mulai geram. Jangan-jangan dia berkata babi pada perempuan yg memberinya uang seribuan tadi, karena dia gendut? Dan laki2 jangkung dengan kumis nya yg agak aneh, sehingga dia berkata lele. Ah kurang ajar pengemis itu. Ah tidak tau diri sekali.
Hari ini benar benar harus kupastikan mengapa. Harus. Harus kupastikan apa maksudnya. Harus.

"Kambing" Dia berkata setelah aku melangkah kira-kira tiga langkah dari tempatnya bersila. Kemudian aku berbalik dan menghampirinya. Lebih tepatnya menanyai apa maksud dia berkata kambing seperti itu. Aku rasa aku tidak bau-bau sekali. Apalagi untuk bau kambing. Iuh. Aku telah menyemprotkan parfum kelas atas terbaru pada seluruh tubuhku. Memang manusia proletar itu tidak tau terima kasih.

"Maaf beribu sebelumnya, aku tidak bermaksud menghina bau badan non." Dia tertawa terbahak-bahak. Jelek sekali suaranya ditelingaku.
"Kalau bukan menghina apa maksud bapak berkata kambing seperti itu?" Aku mulai lega karena aku memang tidak bau kambing.
"Bukankah non siang tadi memesan sepuluh tusuk sate dan melahapnya cepat-cepat?" Tanya nya dengan senyum tak menggoda.
"Ya sate kambing. Bagaimana bapak bisa tau?" sahutku cepat dan heran.
"Keburukanku, aku bisa tau apa makanan terakhir yg orang lahap."
Kali ini dia tertawa dengan mulut yg terbuka lebar dari sebelumnya. Aku mulai mengikuti tawanya. Aku telah benar-benar bodoh berprasangka buruk pada si pemain ukulele ini. "Mohon maaf, pak." Aku memberikannya senyum yg paling elok yg pernah kuciptakan. Dadah pak, sepertinya Kian sudah datang. (tespsikologi)